0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pertunjukan Drama di TBJT

Ada Dhemit di Pohon Raksasa

Teater Cekal FISIP Unisri mengusung lakon "Dhemit" karya Heru Kesawamurti di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Senin (4/6) malam. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Pertunjukan drama Teater Cekal berjudul Dhemit karya Heru Kesawamurti mengundang tawa serta tepuk tangan dari penonton di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Senin (4/6) malam. Cerita tersebut bercerita tentang sekelompok dhemit yang kehilangan tempat tinggalnya karena ulah manusia yang ingin membangun tempat tinggal.

Reportoar itu dimulai dengan dialog antara Pak Rajeg (seorang kontraktor) dan Suli (konsultannya) yang berencana menebang sebuah pohon raksasa yang dianggap mengganggu pembangunan proyek mereka. Tetapi Suli merasa risau karena pohon tersebut di anggap angker. Akhirnya Suli diculik oleh salah satu makhluk halus dan dibawa ke alam mereka.

Dhemit-dhemit yang tahu akan hal itu akhirnya risau mereka bermusyawarah dengan pemimpin dhemit tentang kelanjutan nasib mereka karena digusur oleh manusia. Di dalam kebingungan karena konsultannya menghilang, Pak Rajeg akhirnya meminta pertolongan sesepuh desa untuk mengembalikan Suli.

Sesepuh desapun akhirnya bersedia membantu pak Rajeg untuk mengembalikan Suli ke alam manusia dengan syarat agar jangan menebang pohon raksasa tersebut sekaligus  membangun desa mereka. Tetapi setelah keinginan Pak Rajeg terkabul dan Suli pun kembali, Pak Rajeg tidak memenuhi janjinya bahkan dia malah sesumbar tetap akan melaksanakan niatnya menebang pohon raksasa tempat tinggal para dhemit.

Sutradara lakon Banuaji Yogasena mengatakan, dirinya bersama Teater Cekal sengaja menggarap kisah tersebut karena melihat keserakahan manusia. Dengan segala cara dan tipu daya agar tujuannya bisa tercapai, tidak peduli aturan serta tidak melihat sekelilingnya. “Pementasan ini menonjolkan tentang keserakahan dan pola pikir manusia yang melanggar semua aturan untuk tercapainya tujuan,” jelasnya saat ditemui wartawan, Senin (4/6) malam.

Selain itu, drama ini juga berpesan bahwa budaya lokal bukanlah alat untuk mengkhultuskan atau mengkramatkan suatu tempat dan serta  benda, melainkan membangkitkan kesadaran bagi masyarakat supaya melestarikan lingkungan dan alam sekitarnya. “Tujuan dari pementasan ini untuk menyadarkan kita bahwa kita harus sadar dan menghargai akan adat istiadat serta tidak merusak lingkungan di sekitar kita,” tambahnya.

Proses kreatif menuju pertunjukan ini menurut Yoga membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Dimulai dari pembuatan konsep, kostum, musik pengiring serta tata riasnya. “Waktu yang kami butuhkan selama 2 bulan,” ungkap pria yang juga berperan sebagai Pak Rajeg itu.

Penataan kostum serta adegan para pemeran Dhemit tak jarang membuat penonton terpingkal-pingkal. Dialog serta tata lampu yang apik membuat pertunjukan tersebut menjadi semakin hidup.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge