0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Meja Rudy Kebanjiran Permintaan Bantuan

Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo membolak-balik berkas pemohon bantuan biaya pendidikan (timlo.net - dhefi)

Solo —  Tiap kali menjelang pergantian Thun Pelajaran Baru menjadi pengalaman tersendiri bagi Wakil Walikota (Wawali) Solo FX Hadi Rudyatmo. Ya, di saat-saat seperti itulah,  meja Wawali selalu saja penuh dengan surat permohonan bantuan orangtua siswa yang tidak mampu.

Seperti pada siang itu manakala wartawan berada di ruang kerja Wawali. Di atas meja, terlihat tumpukan kertas yang menggunung, tertata rapi dalam sebuah stopmap besar. Di dalamnya, terdapat belasan, mungkin juga puluhan berkas dari orang tua siswa yang berasal dari dalam Kota Solo.

Dalam berkas itu jelas terlihat, surat permohonan bantuan yang ditujukan kepada Wawali secara pribadi. Selain mengirimkan surat permohonan bantuan, rata-rata mereka juga menyertakan bukti tagihan dari sekolah berupa tunggakan bayaran biaya yang belum dibayar sekian waktu, dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kantor Kelurahan. Bahkan, mayoritas diantaranya, harus merelakan ijasah atau surat kelulusan anak mereka ditahan oleh pihak sekolah lantaran belum membayar iuran sekolahnya.

Rudy, sapaan Wawali hanya mengelus dada dengan fenomena tersebut. “Semua minta untuk melunasi uang sekolah. Kalau tidak lunas, ijasahnya belum bisa keluar,” tuturnya kepada wartawan, Senin (4/6) sambil membolak-balik berkas pemohon.

Jumlah nominal yang diajukan oleh pemohon juga beragam, mulai dari ratusan ribu rupiah sampai dengan jutaan. Bahkan, ada pemohon yang mengajukan bantuan dengan nilai yang cukup fantastis, mencapai Rp 4 jutaan. Pemohon tersebut merupakan wali siswa dari SMK swasta yang ada di Kota Solo.

Atas pengajuan permohonan bantuan itu, Wawali berjanji untuk melunasinya, meski harus dicicil. “Kasihan ijasah mereka tidak bisa keluar karena harus nunggak SPP,” tambahnya. menurutnya, ketidakmampuan masyarakat harus menjadi perhatian Pemerintah.

Rudy mengaku, kerap kali gaji serta tunjangan operasionalnya harus terpangkas untuk hal-hal tersebut. Diketahui, selain menerima gaji pokok, tunjangan operasionalnya sebesar Rp 22 Juta ia sisihkan untuk memberi santunan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Hanya saja, ia lebih selektif dalam mengucurkan bantuan tersebut. Ia mempunyai 2 bendel stopmap berukuran besar khusus untuk menyaring pemohon bantuan. Bendel pertama, berisi pemohon bantuan yang rata-rata berasal dari warga tidak mampu. Sedangkan dibendel berikutnya, berisi proposal dari pemohon yang sudah lolos saringan yang berhak menerima bantuan tersebut.

Sebelum mengucurkan bantuan kepada warga, biasanya ia mengecek keberadaan warga yang bersangkutan melalui stafnya. Setelah mendapat laporan dari stafnya yang dikirim untuk mengecek kebenaran asal usul pemohon, santunan dari Wawali baru dikucurkan dengan nominal yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge