0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Cabuk Wonogiri Beda Dengan Cabuk Solo

Sambal cabuk dihidangkan dengan lalapan daun kemangi,lauk bothok teri dan bakwan jagung, serta suguhan kopi paling pas dinikmati saat pagi hari (dok.timlo.net/aris arianto)

Wonogiri — Meski memiliki nama yang sama serta bahan baku serupa, nyatanya ada perbedaan tekstur dan rasa maupun aroma antara cabuk Wonogiri dengan cabuk bikinan Solo.

Cabuk asli Wonogiri warnanya lebih hitam pekat, bau wijennya kental menyengat, dan rasanya agak sedikit getir. Ini disebabkan penggunaan wijen sebagai bahan utamanya mendominasi poses pembuatan cabuk, sedangkan minyak biji kemiri yang dipergunakan benar-benar pilihan.

“Kalau cabuk yang buatan Solo warnanya tidak sehitam ini Mas, tapi baunya tidak terlalu menyengat. Kalau cabuk bikinan Wonogiri hitam pekat, bila dipegang juga lebih lembek,“ ungkap Sumarmi (32) penjual cabuk di pasar lama Baturetno kepada Timlo.net, Minggu (3/6).

Cara penyajiannyapun juga berbeda. Jika di Solo, cabuk kerap dijumpai disuguhkan bareng rambak dan parutan kelapa. Sedangkan di wilayah Wonogiri, penganan jenis ini banyak yang menyukai saat dicampur dengan sambal cabai merah plus bawang putih.

“Cabuknya dicampur sambal dari cabai rawit merah, bawang putih dan garam, lalu dikasih lalapan daun kemangi, kacang panjang, dan biji lamtoro,“ ujar Sumarmi.

Salah satu penggemar sambal cabuk, Mukhlis (40) warga Sambilengek, Giriwoyo mengaku paling nikmat menyantapnya saat pagi hari. “Apalagi ditemani bothok teri, bakwan jagung dan minumnya kopi, wah nikmat Mas, bikin ketagihan pokoknya,“ tutur Mukhlis.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge