Komersialisasi Wayang Orang Tandai Lahirnya Wayang Orang Sriwedari
Solo – Beralihnya wayang orang yang semula merupakan sebuah tontonan keluarga lingkungan Mangkunegaran dan ningrat menjadi sebuah tontonan publik. Dibarengi dengan dijadikannya wayang orang sebagai sebuah komoditas yang menjual pada kala itu. Munculnya wayang orang komersial, menjadi sebuah cikal bakal awal lahirnya wayang orang Sriwedari.
Selepas tumbuh dan berkembang kelompok-kelompok wayang orang yang menggelar pertunjukan di gedung Sonoharsono (kemudian menjadi bioskop Ura Patria/UP), Srikaton (menjadi Bioskop Trisakti) dan eks bioskop Dhady. Kelompok-kelompok wayang orang tersebut dimiliki oleh Gan Kam, Lie Wat Gien, dan RM Sastratanaja. Pada era tahun itu wayang orang yang semula menjadi sebuah pertunjukan eksklusif kelas atas (lingkar istana/ningrat) beralih menjadi pertunjukan seni komersial kelas barangan (pengamen). Nilai bisnis yang sangat tinggi menumbuhkan bermunculnya kelompok wayang orang baru dengan menggelar berbagai pertunjukan keliling dalam tobong (bangunan semi permanen yang bisa dibongkar pasang).
Pada tahun 1899 dibangun Kebon Raja Sriwedari dan dibuka untuk umum pada tahun 1901. Sejak itu pertunjukan wayang orang diselenggarakan secara bergantian oleh kelompok pimpinan Gan Kam, Lie Wat Gien, dan RM Sastratanaja. Atas perintah Sunan Pakoe Boewono X, Patih Sastradiningrat IV membentuk perkumpulan wayang orang Sriwedari pada tahun 1910. Berbagai sumber menyatakan wayang orang Sriwedari mulai pentas pertama pada tahun 1911 atau 1912, namun sebuah penelitian Hersapandi (1991) menemukan bukti lain, seorang saksi hidup yang berasal dari lingkungan Mangkunegaran RM Suraya (lahir 1901) yang kemudian diangkat menjadi abdi dalem Keraton bergelar RMNg Wignyahambeksa yang juga adalah seorang seniman tari, mengatakan bahwa ia terlibat dalam pementasan perdana wayang orang Sriwedari. Ia sendiri baru berusia sembilan tahun ketika bermain dalam wayang orang tersebut. Sehingga dapat dipastikan bahwa penampilan perdana wayang orang Sriwedari dimulai sejak tahun 1910. Tahun inilah yang digunakan sebagai awal lahirnya wayang orang Sriwedari.
Wayang orang Sriwedari terus mendapatkan tempat dihati masyarakat yang sangat merindukan sebuah tontonan. Dari era 20-an hingga 40-an. Wayang orang Sriwedari terus berkembang dengan pesat. Bahkan beberapa pemain tetap yang dulunya adalah pemain wayang orang keliling, juga diangkat menjadi abdi dalem punakawan langentaya pada kantor Hamongraras Keraton Surakarta. Pemain terkemuka wayang orang Sriwedari pada dekade 20-an sampai 40-an adalah Wugu Hardjawibaksa sebagai tokoh Gatotkaca dan Sastradirun sebagai Petruk.
Era tahun 70an wayang orang Sriwedari merupakan sumber pendapatan yang menguntungkan bagi pengelolanya (Keraton Surakarta yang kemudian beralih Pemerintah Kotapraja Surakarta). Pada dekade 40-an hingga 70-an adalah masa-masa keemasan wayang orang Surakarta. Sejumlah nama seperti Rusman Hardjawibaksa, Surana Ranawibaksa, dan Darsi Pudyarini. Wayang orang Sriwedari juga tercatat sebagai sebuah tontonan favorit Presiden RI I Soekarno. Bung Karno dalam tiga bulan sekali selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan wayang orang Sriwedari.
(Bersambung Bagian 3 : Wayang Orang Sriwedari dan Polemiknya)
Berita Terkait
Berita Terkini
- Juwangi Jadi Sasaran TMMD
- Bus kok Numpaki Pembatas Jalan?
- Pengedar Ganja Diringkus
- Inilah, Ikrar Para Penjual Ciu
- Buku “Kisah Menarik Masa Kecil Pa...
- DPRD Keberatan Dengan Keringanan Re...
- Ayo Berinternet yang Sehat dan Aman...
- Petani Tembakau di Klaten Sulit Ban...
- GMNI Unisri Adakan Sarasehan Kebang...
- Rawan Kecelakaan, Empat Bukaan Medi...
- Belum-belum kok Sudah Bocor
- Selingkuhan Melapor, Oknum Polisi T...
- Mei, Mall Paragon Semarak Event
- Kantor Cabang KSPS Berkah Kebanjira...
- Gagal Dulang Poin di Aceh


Inilah Kronologi Penandatanganan Re...
Kerabat Kusumowandowo Ingin Diperte...
Besok, Hangabehi-Tedjowulan Bertemu...
Kerabat Keraton Datangi Balaikota
KPH Satriyo: Sinuhun Hangabehi Dire...
KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
Sentana Dalem Keraton Urung Menghad...