• Rabu, 23 Mei 2012
Wayang Orang Sriwedari Bagian 1

Menelusuri Awal Mula Lahirnya Wayang Orang di Surakarta

Bram Dwi Atmanto - Timlo.net
Senin, 5 Juli 2010 | 14:12 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Bram
Salah satu penampilan wayang orang Sriwedari di Gedung Wayang Orang Sriwedari. (foto diambil maret tanggal 12 tahun 2010)

Solo – Tidak terasa, sudah satu abad wayang orang Sriwedari hadir ditengah-tengah masyarakat. Wayang orang Sriwedari sendiri merupakan kelompok seni tradisional satu-satunya yang sampai saat ini masih menggelar pertunjukan hampir setiap hari. Ditengah pasang surut kelompok seni tersebut, keberadaan wayang orang Sriwedari tetap menjadi kebanggaan warga Solo. Berikut sebuah tulisan yang akan menceritakan perjalanan awal wayang orang Sriwedari.

Pertunjukan wayang orang konon pertama kali digelar pada kurun waktu yang hampir sama di Keraton Yogyakarta yang pada waktu itu dibawah penguasaan Sultan Hamengku Buwono I dan di Kadipaten Mangkunegaran Surakarta pada masa Adipati Mangkunegoro I. Wayang orang sendiri adalah genre seni pertunjukan tradisional yang ada di lingkungan vorstenlanden (swapraja Surakarta-Yogyakarta) yang menggabungkan seni drama dan seni tari. Berbeda dengan seni tari tradisional klasik seperti bedaya yang dimainkan tanpa dialog, wayang orang mengambil cerita wayang purwo (Mahabarata dan Ramayana) yang tentu saja mengadaptasi karakter pada pertunjukan wayang kulit. Berdasarkan penelitian Leyveld (1931), lakon pertama yang ciptaan Hamengku Buwono I adalah Gandawarya, sedangkan Mangkunegoro I mengambil lakon Wijanarka. Awal dari wayang orang ini diperkirakan muncul pada abad 18.

Kemudian pada masa pemerintahan Mangkunegoro IV, perkembangan wayang orang di lingkungan Keraton berjalan dengan pesat. Salah satu penyebab pesatnya wayang orang tersebut adalah kekuatan ekonomi yang dimiliki Kadipaten Mangkunegaran yang besar. Dikala itu Mangkunegoro IV mengembangkan usaha komersial seperti perkebunan kopi, industri gula (PG Colomadu dan PG Tasikmadu), pabrik genteng kemiri, real estate berupa rumah sewa di Prins Hendriklaan (Pindrikan) Semarang.

Akan tetapi sekitar tahun 1895 pada era Adipati Mangkunegoro V, Kadipaten Mangkunegaran mengalami kemunduran ekonomi, yang menghasilkan sebuah keputusan untuk memberikan ijin wayang orang untuk menggelar pertunjukan di luar istana. Peluang itu dimanfaatkan oleh seorang saudagar Tionghoa bernama Gan Kam, yang menggelar pertunjukan wayang orang dengan panggung proscenium ala opera Barat diluar istana dengan menarik bayaran  bagi penontonnya. Sebelum tahun 1895 belum dikenal pertunjukan wayang orang dengan ditarik bayaran, baru mulai tahun tersebut komersialisasi pertunjukan wayang orang mulai berkembang. Pertunjukan wayang orang sendiri acapkali digelar pada komidi stanbul di gedung Schouwburg (kemudian beralih menjadi bioskop fajar dan kini menjadi sebuah ruko).  

 

(Bersambung bagian 2. Judul Komersialisasi Wayang Orang Tandai Lahirnya Wayang Orang Sriwedari)

         

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125