0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

KOMAK’S, Komunitas Ayam Ketawa Soloraya

- Timlo.net
Dok. Timlo.net/Aulia Annisa

Dok. Timlo.net/Aulia Annisa

Karanganyar – Semakin meningkatnya penggemar ayam ketawa di Surakarta, lantas membuat salah satu pecinta ayam ketawa, Rustanto membentuk satu komunitas yang di namai KOMAK’S yang merupkan akronim dari Komunitas Ayam Ketawa Solo Raya.

Rustanto saat ditemui Timlo.net di kediamannya, di Colomadu, Karanganyar, baru-baru ini, menjelaskan, KOMAK’S berdiri September 2008. Komunitas ini dibentuk untuk menampung para pecinta ayam ketawa di Solo Raya.

“Awalnya pecinta ayam ketawa kita mengadakan latihan bersama pertama di Gladak, terus akhirnya terbentuklah KOMAK’S ini. Kita ingin mengumpulkan sesama penghobi ayam ketawa. Nanti kita tetap ada latihan-latihan rutin, biasanya itu menjelang perlombaan, kemudaian bisa juga berbagi tips buat para pecinta ayam yang baru-baru,” ujar Rustanto.

Secara fisik, ayam ketawa memang tidak jauh berbeda dari ayam kampung pada umumnya. Yang membedakan adalah suaranya. Banyak pecinta ayam ketawa yang mengaku senang dengan suara ayam yang ketika di dengar seperti layaknya manusia tertawa.

Menurut Rustanto, awalnya ayam ketawa atau yang juga disebut Manu Gaga ini hanya dikenal dengan tiga klasifikasi sesuai dengan ciri khas masing-masing. Yakni Gaga yang mempunyai interval nada yang senggang dengan vokal kha.. khakhakha, umumnya dengan suara pendek atau sedang dan jarang bersuara panjang.

Kemudian Garete yang interval nadanya rapat dengan vokal Rrrrrrr dan umumnya suara agak panjang. Terakhir yaitu Dodo dengan suara mendayu dan panjang dengan vokal dododo.

Saat ini berkat kreativitas para peternak ayam ketawa, dihasilkan beberapa ayam yang bersuara unik seperti mirim suara kuntilanak atau Gaga dengan alunan suara panjang. Belakangan ini muncul pembagian suara menjadi beberapa tipe yaitu Slow untuk yang interval nadanya senggang. Dangdut untuk yang interval nadanya rapat atau cepat. Dan, Garete untuk yang interval nadanya lebih rapat dibandingkan Slow dan Dangdut. Dari pembagian tersebut dibagi lagi yang bersuara kristal dan bukan kristal.

Rustanto mengatakan, ayam yang berkualitas adalah yang memiliki keselarasan irama. “Ayam yang berkualitas itu kalau ada beberapa hal. Pertama intonasi yang sangat apik dari nada depan tengah dan ujung, jadi iramaya harus satu kesatuan juga elok didengar. Kemudian kegacoran, power dan kebeningan suara akan menjadi nilai plus. Jadi ayam ini biasanya saya jual ada yang Rp 200.000 ada yang Rp 500.000 tergantung Mbak. Apalagi kalau dia juara dalam lomba, wow.. itu banyak di cari dan harganya jelas mahal,” ujar Rustanto.

Ditambahkan, untuk menjadi juara, selain hal tersebut juga perlu mental ayam yang baik, karena cukup banyak ayam yang memiliki kualitas suara yang bagus namun saat tampil di lomba malah mlempem atau kurang maksimal.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS