• Rabu, 23 Mei 2012
Tertarik Pelajari Karawitan

Kisah Para Pengrawit Mancanegara

Bram Dwi Atmanto - Timlo.net
Kamis, 10 Juni 2010 | 02:00 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Bram
Nembang - Para mahasiswa asing tengah membawakan salah satu gendhing Gambit Sawit. (9/6)

Solo – Kesenian karawitan menjadi sebuah kesenian yang sudah mendunia. Sekarang ini sudah banyak perguruan tinggi di dunia yang mulai memperkenalkan seni karawitan kepada para mahasiswanya. Jawa sendiri yang menjadi pusat musik kesenian karawitan menjadi tujuan para mahasiswa yangingin memperdalam seni karawitan lebih lanjut. Saat ini 6 mahasiswa asing mempelajari karawitan di ISI Surakarta.

 

Ke enam mahasiswa asing tersebut adalah Jenny M’Callum (26), Joe Browning (25), Dave Mckenny (26) yang berasal dari Inggris, kemudian Bryan Camphige (30), Dave Ruden (30) dari Amerika Serikat, dan terakhir Hitomi Matsuda (34) yang berasal dari Jepang. Menurut Jenny M’Callum, kedatangan mereka ke Solo untuk mempelajari karawitan lebih lanjut.

 

“Kami sangat tertarik dengan musik karawitan dan ingin memperdalam belajar musik karawitan. Dulu di kampus saya di England ada musik gamelan, awalnya saya belajar dari dosen saya yang juga orang England, namun saya ingin memperdalam karawitan, maka dari itu saya datang ke Solo”, terang Jenny ditemui di acara Gala Dinner Renaissance Budaya Nusantara I di Auditorium UNS.

 

Jenny menilai Solo adalah pusat dari musik karawitan, jadi baginya datang ke Solo adalah pilihan yang sangat tepat. “Kedatangan kami di ISI Solo juga merupakan program beasiswa yang kami peroleh. Beasiswa ini berdurasi antara satu hingga dua tahun”, terang mahasiswi yang sudah cukup fasih berbahasa Indonesia ini.

 

Alasan bagi mereka untuk mempelajari musik karawitan ketimbang musik barat pada umumnya, dikarenakan karawitan adalah musik classic Jawa yang mengedepankan sebuah rasa kebersamaan. “Bermain karawitan harus bisa menguasai segala jenis alat musik, selain itu juga ketika bermain karawitan ada sebuah rasa kekeluargaan yang sangat kental”, terang Joe.

 

Sejauh ini kehadiran mereka sangat diterima oleh masyarakat Solo. Tidak pernah terjadi permaslahan dalam berbaur dengan mahasiswa asli Jawa. “Kami merasa diterima disini, walaupun awalnya sempat terkendala bahasa namun sekarang kami sudah bisa mempelajari bahasa Indonesia, jadi sekarang cukup mudah untuk berkomunikasi dengan masyarakat Solo”, lanjut Jenny.

 

Hitomi, yang berasal dari Jepang juga merasakan hal serupa, perjalanan mereka dalam menimba ilmu karawitan yang sudah hampir 1 tahun ini berjalan dengan baik. “Kami mendapatkan bimbingan yang baik dari para dosen, apalagi di Solo sendiri sering ada pentas Karawitan yang cukup membantu kami”, jelasnya.

 

Kehadiran mereka di acara Gala Dinner Renaissance Budaya Nusantara I dalam rangka memeriahkan gelaran acara tersebut. “Ini pertama kalinya kami tampil di publik, setelah sekian lama kami berlatih. Pertunjukan kami nanti akan di bantu dengan beberapa pengrawit dari Solo. Kami menamakan kelompok kami Manunggal Rasa”, terang Joe.

         

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125