0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

Gunung Gandhul, Kenangan Tempo Doeloe

- Timlo.net
dok.timlo.net/aris arianto

dok.timlo.net/aris arianto

Gunung Gandhul dilihat dari Kota Wonogiri

Wonogiri – …Goenoeng Gandhoel, Wonogiri …goenoeng Gandhoel, Poesat jamoe air mancoer, Daripada makan boelgoer, Lebih baik makan thiwoel, Wonogiri … Goenoeng Gandhoel…

Sebait lagu lawas di atas pernah populer pada dasawarsa 40 sampai 50-an. Kala itu sering dinyanyikan sekumpulan anak muda yang tengah menikmati semilir angin lewat perjalanan sepur (kereta api) jurusan Stasiun Baturetno – Wonogiri Kota. Atau acapkali didendangkan anak usia sekolah yang lagi asyik bertamasya di tempat yang menjadi judul lagu tersebut, Gunung Gandhul.

Gunung Gandhul memang menjadi semacam ikon wisata kebanggaan Kabupaten Wonogiri zaman dahulu. Jauh sebelum Waduk Gajah Mungkur (WGM) dibangun. Bahkan ada semacam ungkapan yang menyebutkan tidak lengkap jika sedang berada di Wonogiri lantas tidak mengunjungi Gunung Gandhoel.

Posisi Gunung yang berada di tengah kota membikin acara tamasya menjadi murah meriah. Dulu mereka yang kepengin berwisata cukup berjalan kaki menelusuri jalanan setapak hingga mencapai puncak gunung. Pengunjungpun tak perlu mengeluarkan uang, paling-paling hanya butuh bekal makanan dan minuman.

Gunung yang menurut kondisi topografinya dimasukkan dalam kelompok perbukitan ini sekilas merupakan batas sebelah barat Kota Wonogiri. Sehingga sering dijadikan semacam gardu pandang bagi kotanya sendiri. Inilah yang membuat banyak pengunjung kala itu memilih mendatangi Gunung Gandhul saat fajar mulai menyingsing. Sebab panorama yang tampak di ufuk timur menimbulkan sensasi tersendiri, dimana matahari yang baru saja terbit di deretan perbukitan sebelah timur seolah bertatap muka   dengan suasana kota Wonogiri yang asri dan nyaman.

Seiring berjalannya waktu Gunung Gandhulpun mengalami pula perubahan. Sekelilingnya kini mulai dirimbuni pepohonan tanaman keras semacam jati, mahoni, ki hujan atau yang dalam bahasa masyarakat setempat dikatakan sebagai trembesi, sampai pohon akasia. Rerimbunan tersebut tak ayal lantas semakin menambah keagungan Gunung Gandhul.

Sehingga tak mengherankan kini pengunjung merasa kian betah berlama-lama menikmati semilirnya angin. Seperti yang dituturkan Retno Untari (21) mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Solo ketika dijumpai tengah menyusuri jalanan di Gunung Gandhul. “Pemandangannya keren Mas, sejuk, tidak terlalu ramai, cocok buat acara outbond atau camping,” ujarnya.

Mbah Sukasmo (80), seorang transmigran dari Rimbo Bujang, Sumatera mengaku masih menyimpan kenangan lama terkait Gunung Gandhul. Kakek 8 orang cucu itu merupakan salah satu peserta transmigrasi bedhol desa saat akan dibangunnya Waduk Gajah Mungkur sekira akhir dasawarsa 70-an.

“Jadi ingat waktu muda dulu saya dan teman-teman sering datang ke sini, sambil mlaku-mlaku dan menyanyikan lagu lawas itu, makanya saat ada waktu longgar saya menyempatkan diri berkunjung ke daerah asal saya Wonogiri dan sekaligus melihat kembali Gunung Gandhul,” tutur dia yang diakhiri dengan menyanyikan  sebait lagu Gunung Gandhul seperti di atas.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS