0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

Gadis Penakluk yang Tegar

- Timlo.net
Dok.Timlo.net/ kacuk Legowo

Dok.Timlo.net/ kacuk Legowo

Pementasan "Gadis Penakluk" oleh Komunitas Kentrung Rock N Roll di Balai Soedjatmoko, Sabtu malam (18/2).

Solo – Sekitar 50 penonton dibikin ger-geran ketika menyaksikan sejumlah adegan lakon Pembayun Gadis Penakluk yang dimainkan  Komunitas Kentruk Rock N Roll, di Balai Soedjatmoko, Sabtu (18/2) malam.

Seperti pertunjukan sebelumnya yang pernah digelar, komunitas ini menggunakan konsep double casting, dikolaborasikan dengan alat musik kentrung, serta alamat musik lainnya. Tak jarang improvisasi sejumlah pemain terlontar spontan. Tak ayal penonton yang menyaksikannya pun tertawa terpingkal-pingkal.

Dengan penataan kostum ala kesenian Rodhat dan Dolalak, komunitas ini menyajikan lakon yang berkisah tentang politik perkawinan yang dilakukan Raja Mataram, Panembahan Senopati. Sutradara pementasan, YE Marstyanto mengatakan, reportoar ini diambil dari referensi kisah kethoprak serta novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Mangir. “Namun, dalam pementasan ini, lebih ditekankan kepada ketegaran sosok Pembayun yang rela suaminya, dibunuh oleh ayahnya sendiri.”

Secara garis besar, lakon ini mengisahkan awal kebangkitan Mataram Islam di Tanah Jawa. Tersebutlah Ki Ageng Mangir ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram yang dipimpin Panembahan Senopati. Untuk menaklukkan Ki Ageng Mangir, lantas Panembahan Senopati memerintahkan putrinya, Pembayun untuk meluluhkan hati Ki Ageng Mangir.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS