• Rabu, 23 Mei 2012
Penyulingan Air Laut Menjadi Air Tawar

Warga Wonogiri Ancang-ancang Hadapi Kemarau

Aris Arianto - Timlo.net
Selasa, 14 Februari 2012 | 09:53 WIB
  • Share
dok.timlo.net/aris arianto
dok.timlo.net/aris arianto
Laut di Samudera Indonesia seperti inilah yang diwacanakan bakal dijadikan alternatif solusi kekeringan di Wonogiri dan sekitarnya

Wonogiri –  Meski belum memasuki musim kemarau, masyarakat pesisir laut Selatan Kabupaten Wonogiri mulai ancang-ancang. Pasalnya bahaya kekeringan diprediksi masih akan menghampiri. Hanya ada sedikit titik terang mengatasi problema klasik tersebut.

“Salah satu solusi yang kami tawarkan dalam mengatasi bahaya kekeringan adalah program penyulingan air laut dijadikan air tawar, Insyaallah bisa mengatasi kekeringan yang melanda daerah Wonogiri bagian selatan dan sekitarnya,” tutur Edy Santosa, seorang pengacara di Wonogiri ketika dijumpai Timlo.net di kediamannya, Selasa (14/2).

Program penyulingan air laut dijadikan air tawar ini, menurut Edy sangat logis diupayakan. Pasalnya sumber daya alam sebagai bahan dasarnya yakni air laut jumlahnya sangat melimpah bahkan dapat dikatakan berlebih. Proses penyulingannya pun tidak memakan waktu lama. Dan segera dapat dirasakan manfaatnya oleh warga.

Usulan ini dikatakannya telah dirembug bersama salah satu anggota DPR RI asal Dapil IV Jawa Tengah, Hajrianto Tohari.  Bahkan atas rekomendasi Hajrianto Tohari pula wacana ini telah sampai ke tangan Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto.”Mengenai disetujui atau tidaknya kita juga belum tahu persis, kita tunggu saja bagaimana respons beliau,” ujarnya.

Saat disinggung mengenai pendanaan, Edy Santosa mengemukakan hal tersebut merupakan kendala utama. Berdasarkan hitung-hitungan sementara untuk melaksanakan proyek itu paling tidak dibutuhkan dana sekira Rp 400 milliar. Namun, jumlah tersebut untuk 3 daerah, yakni Kabupaten Wonogiri di Jateng, Kabupaten Gunung Kidul (DIY), dan Pacitan (Jawa Timur).

“Proyek penyulingan air laut ini bukan hanya ditujukan untuk Kabupaten Wonogiri, tapi juga daerah Gunung Kidul dan Pacitan. Jadi prinsipnya adalah kerjasama lintas sektor-regional,” imbuhnya lagi.

Pendanaan tersebut dianggapnya juga harus dibagi untuk ketiga daerah yang dimaksud. Dengan distribusi yang dibagi secara proporsional. Berdasarkan luas wilayah yang bakal mendapat manfaat dari proyek tadi. “Jadi dimungkinkan sekali Wonogiri memperoleh bagian yang terbanyak atau bisa pula mendapat jatah terkecil,” jelasnya.

menurut Edy, pendanaan sejumlah diatas sulit untuk terpenuhi dari APBD. Salah satunya jalan harus melalui jalur APBN. Atau bisa pula dengan menggandeng keterlibatan pihak ketiga. “ Yang penting kalau untuk kesejahteraan rakyat ya nggak masalah, jika terpaksanya harus menggandeng pihak ketiga ya ndak apa – apa.

         

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan pdam solo

iklan pln

iklan mettafm