Anyaman Bambu Bero Terbentur Pemasaran
Klaten – Puluhan perajin anyaman bambu di Dukuh Bero, Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten mengaku masih kesulitan dalam pemasarannya. Namun demikian mereka tetap berproduksi untuk kebutuhan lokal.
Salah satu perajin, Turjiyo (60) warga Dukuh Bero, Desa Bero, menuturkan, anyaman bambu tersebut dibuat berbagai bentuk barang tradisional, d iantaranya bronjong, ekrak, rinjing dan berbagai bentuk lainnya.
Harga yang ditawarkan beragam tergantung ukurannya. Untuk bronjong, Turjiyo mematok harga antara Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu per buah. Sedangkan untuk jenis lain antara Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per buah.
Turjiyo mengaku, dalam berproduksi masih terkendala soal pemasaran. Saat ini hasil karyanya hanya bisa dipasarkan di berbagai pasar tradisional di Klaten. Dari hasil produksinya itu, ia mendapatkan keuntungan sekitar Rp 25 ribu per hari.
“Hasil produksi ini saya jual ke bakul yang ada di pasar-pasar di wilayah Klaten. Tapi ada juga bakul yang datang sendiri. Untuk memasarkan ke luar Klaten masih sangat sulit,” tutur Turjiyo saat ditemui Timlo.net di rumahnya, Jumat (3/2).
Tak hanya soal pemasaran, kendala lain yang dirasakan para perajin yakni permodalan. Untuk berproduksi, mereka harus mengeluarkan modal sendiri-sendiri tanpa pinjaman. “Kami berharap pemerintah bisa membantu dalam hal permodalan dan pemasaran,” tutur Setyo Mulyono (72) perajin lainnya.
Kendala lainnya, pemenuhan bahan baku berupa bambu yang semakin sulit didapat di daerahnya. Untuk bahan baku, mereka membeli bambu-bambu dari daerah Wonogiri yang banyak dijual di daerah Cawas. Harga bahan baku berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu per bambu.
Memaskui musim penghujan saat ini, para perajin juga kesulitan dalam proses pengeringan. Akibatnya, mereka harus menurunkan jumlah produksinya. “Setiap kali musim penghujan pengeringan memang tidak bisa maksimal,” ujar Suparno (54), salah satu perajin besek.
Ia mengaku, terpaksa menurunkan jumlah produksinya semenjak memasuki musim penghujan. Dalam sehari ia berproduksi sekitar satu kodi yang berisi 10 sampai 20 besek. Sebelumnya ia mampu lebih dari itu. Besek-besek itu ia jual Rp 12 ribu per kodi.
“Kerjinan anyaman bambu ini merupakan usaha turun temurun. Bagaimanapun juga tetap dikembangkan dengan modal seadanya karena tidak ada pilihan lainnya,” imbuh Suparno.
Berita Terkait
Berita Terkini
- Belum-belum kok Sudah Bocor
- Selingkuhan Melapor, Oknum Polisi T...
- Mei, Mall Paragon Semarak Event
- Kantor Cabang KSPS Berkah Kebanjira...
- Gagal Dulang Poin di Aceh
- Kerja kok Sambil Jualan Ciu?
- SK Relokasi Warga Merapi Batal Dita...
- Tidak Hanya Maliawan, Pemkot Minta ...
- Setubuhi Gadis Dibawah Umur, Pengam...
- Saling Senggol Berujung Bacok
- Inilah Kronologi Penandatanganan Re...
- Pegadaian Lepas Logam Mulia 2 Kg
- Kerabat Kusumowandowo Ingin Diperte...
- Kekeringan, Petani di Klaten Rame-r...
- Klaten Spektakuler Digelar Juli
Berita Terpopuler
- Batal Konser, Lady Gaga Jalan-jalan...
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan...
- Isi Maklumat Rekonsiliasi Dua Raja...
- 2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- Gedung Bertingkat 28 Segera Berdiri...
- KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
- Hangabehi – Tedjowulan Kumpulkan...
- Dua Raja Keraton Surakarta Bersatu
- Terlalu Manja, Impian Masuk IPL...
- Car Free Day kok Sepi?
- Jokowi Ingin Kerabat Keraton Akur


Inilah Kronologi Penandatanganan Re...
Kerabat Kusumowandowo Ingin Diperte...
Besok, Hangabehi-Tedjowulan Bertemu...
Kerabat Keraton Datangi Balaikota
KPH Satriyo: Sinuhun Hangabehi Dire...
KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
Sentana Dalem Keraton Urung Menghad...