• Rabu, 23 Mei 2012

Anyaman Bambu Bero Terbentur Pemasaran

Indratno Eprilianto - Timlo.net
Jumat, 3 Februari 2012 | 19:51 WIB
  • Share
Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto
Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto
Salah satu perajin di Dukuh Bero, Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Klaten sedang merakit anyaman bambu untuk dijadikan bronjong

Klaten – Puluhan perajin anyaman bambu di Dukuh Bero, Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten mengaku masih kesulitan dalam pemasarannya. Namun demikian mereka tetap berproduksi untuk kebutuhan lokal.

Salah satu perajin, Turjiyo (60) warga Dukuh Bero, Desa Bero, menuturkan, anyaman bambu tersebut dibuat berbagai bentuk barang tradisional, d iantaranya bronjong, ekrak, rinjing dan berbagai bentuk lainnya.

Harga yang ditawarkan beragam tergantung ukurannya. Untuk bronjong, Turjiyo mematok harga antara Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu per buah. Sedangkan untuk jenis lain antara Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per buah.

Turjiyo mengaku, dalam berproduksi masih terkendala soal pemasaran. Saat ini hasil karyanya hanya bisa dipasarkan di berbagai pasar tradisional di Klaten. Dari hasil produksinya itu, ia mendapatkan keuntungan sekitar Rp 25 ribu per hari.

“Hasil produksi ini saya jual ke bakul yang ada di pasar-pasar di wilayah Klaten. Tapi ada juga bakul yang datang sendiri. Untuk memasarkan ke luar Klaten masih sangat sulit,” tutur Turjiyo saat ditemui Timlo.net di rumahnya, Jumat (3/2).

Tak hanya soal pemasaran, kendala lain yang dirasakan para perajin yakni permodalan. Untuk berproduksi, mereka harus mengeluarkan modal sendiri-sendiri tanpa pinjaman. “Kami berharap pemerintah bisa membantu dalam hal permodalan dan pemasaran,” tutur Setyo Mulyono (72) perajin lainnya.

Kendala lainnya, pemenuhan bahan baku berupa bambu yang semakin sulit didapat di daerahnya. Untuk bahan baku, mereka membeli bambu-bambu dari daerah Wonogiri yang banyak dijual di daerah Cawas. Harga bahan baku berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu per bambu.

Memaskui musim penghujan saat ini, para perajin juga kesulitan dalam proses pengeringan. Akibatnya, mereka harus menurunkan jumlah produksinya. “Setiap kali musim penghujan pengeringan memang tidak bisa maksimal,” ujar Suparno (54), salah satu perajin besek.

Ia mengaku, terpaksa menurunkan jumlah produksinya semenjak memasuki musim penghujan. Dalam sehari ia berproduksi sekitar satu kodi yang berisi 10 sampai 20 besek. Sebelumnya ia mampu lebih dari itu. Besek-besek itu ia jual Rp 12 ribu per kodi.

“Kerjinan anyaman bambu ini merupakan usaha turun temurun. Bagaimanapun juga tetap dikembangkan dengan modal seadanya karena tidak ada pilihan lainnya,” imbuh Suparno.

         

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan PLN

iklan innity

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan mettafm

iklan monex indonesia

iklan bank jateng

iklan JS 300×125