0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

Kerajinan Kecil di Desa Mendak, Delanggu, Klaten

Limbah Kayu Disulap Jadi Pegangan Sotil

- Timlo.net
Dok.Timlo.net/Indrato Eprilianto

Dok.Timlo.net/Indrato Eprilianto

Seorang pengrajin limbah kayu warga Dukuh Gayam, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten sedang melakukan proses pengamplasan

Klaten – Bagi sebagian orang, limbah kayu sisa penggergajian bisa saja dianggap sampah yang kurang bermanfat. Namun tidak bagi warga Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten. Dengan keahliannya, limbah kayu tersebut disulap menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis.

Salah satu pengrajin, Ari Wibowo (32), warga Dukuh Gayam, Desa Mendak, menuturkan, sisa-sisa limbah kayu dari penggergajian tersebut dimanfaatkan kembali untuk dijadikan alat pegangan sotil. Bahan limbah kayu itu ia datangkan dari tempat-tempat penggergajian di daerah Kaliyoso, Boyolali.

Ada berbagai ukuran yang dibuatnya. Untuk pegangan sotil ukuran besar panjangnya 34 centimeter dengan diameter 2,3 centimeter. Sedangkan ukuran kecil panjangnya 30 centimeter dengan diameter 2,1 centimeter.

Untuk harga, pegangan sotil yang ukuran besar sekitar Rp 370 per biji. Sedangkan yang kecil Rp 270 per biji,” tutur Ari saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (2/2).

Ari menjelaskan, barang-barang hasil kerajinannya itu ia setorkan ke desa-desa yang menjadi sentra kerajinan peralatan rumah tangga, seperti Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo dan Desa Segaran, Kecamatan Delanggu.

Ari menerangkan, untuk memenuhi pesanan ia mampu mengerjakan 300 biji dalam satu hari. Selain bikin pegangan sotil, limbah kayu itu juga disulap menjadi palet tenun yang dikirim ke pabrik tekstil di daerah Boyolali. “Untuk palet tekstil ini sementara tidak mengerjakan karena masih menunggu order,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Mendak, Sentot Subagyo, menerangkan, di desanya, terdapat t puluhan pengrajin limbah kayu. Mereka tersebar di beberapa dukuh yang masing-masing memiliki keahlian sendiri-sendiri seperti pembubutan dan penggergajian.

Dari limbah kayu tersebut, bisa dihasilkan berbagai kerajinan, selain pegangan sotil, ada juga yang dibuat untuk sangkar burung dan peralatan rumah tangga lainnya.

“Dari keahlian warga ini, ternyata mampu menekan pengangguran. Hanya saja untuk pengembangannya masih terbentur permodalan, sehingga hasil produksi hanya bisa dipasarkan lokal. Kami berharap pemerintah terkait bisa memihaki,” ujar Sentot.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS