0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dulu Stan, Sekarang Setan

Muhammad Luri, salah seorang pembalap Tong Setan di Sekaten Solo. (Dok.Timlo.net/ Radit)

Solo – Namanya memang Tong Setan tapi tidak ditemukan setan di dalamnya, kecuali seorang pembalap yang sedang melakukan atraksi dengan lincah.

Salah seorang pembalap yang beratraksi di tong raksasa, Sekaten Solo itu adalah Muhammad Luri. Perawakannya tinggi dan kekar. Dagu tegas dan sorot matanya yang tajam seolah menggambarkan pahit manis hidupnya sebagai seorang pembalap Tong Setan. Sejak tahun 1986 ia menjalani profesi ini di beberapa kota besar, seperti Bali, Lombok, dan Pekanbaru. Usia boleh dibilang tak lagi muda, tapi semangatnya untuk mencari nafkah tak pernah pupus, meskipun intensitasnya menjadi pembalap mulai berkurang.

Kurang lebih selama 15 menit beratraksi, pria yang akrab disapa Luri ini menjalaninya dengan segala risiko dan suka duka. “Sukanya bisa menghibur masyarakat, dukanya jika hujan penontonnya sedikit,” imbuhnya. Seperti kebanyakan pembalap, ia pun pernah jatuh saat beratraksi tapi itu justru semakin memompa semangatnya untuk mengendarai sepeda motor dengan berputar-putar, naik, turun menukik, melepas setang, serta lincah menangkap lembaran uang yang ditaburkan oleh para penonton.

Nah, mitos uang dari penonton untuk syarat mistik keselamatan itu dibantahnya secara halus. Baginya, itu tak lebih sebagai sawer. “Mereka sekadar ingin tahu sejauh mana kelincahan pembalap mengambil uang tanpa harus menghentikan motor,” jelas pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah ini.

Dua puluh enam tahun menjadi pembalap, Luri sedikit paham awal mula sirkuit ini disebut Tong Setan. “Dulu namanya Tong Stan. Karena lidah orang Jawa lebih luwes mengatakan setan, maka nama itu diubah menjadi Tong Setan,” pungkasnya kepada Timlo.net, Sabtu malam (28/1) lalu.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge