0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mbah Yono: SBY Jangan Ingkar Janji

Wiyono alias Mbah Yono saat membaca surat balasan dari Sekretariat Negara (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten — Di sebuah bilik bambu itu, Wiyono alias Sugiharto (83) tampak berbaring sambil menatap langit-langit emperan rumah yang ditempatinya di Dukuh Randukeling, Desa Tanjungsari, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten.

Di depannya, sebuah meja kecil tampak beberapa barang dengan segelas teh yang sudah dingin menjadi teman kesehariannya. Sesaat kemudian, Mbah Yono, panggilan akrabnya, terbangun dan duduk sambil mengusap wajahnya.

Bagi mantan pejuang ini, bilik bambu itu menjadi rebahan tubuh rentanya dalam mengenang masa penjajahan. Meski sudah tua, Mbah Yono masih bisa mengingat semuanya.

“Saya pernah ikut berjuang bersama Bung Tomo dan Slamet Riyadi saat mengusir penjajah,” tutur mantan Ketua Legiun Veteran Manisrenggo ini saat ditemui wartawan, Jumat (27/1).

Ingatan-ingatan Mbah Yono itu membuat semangat perjuangannya tak pernah luntur. Bahkan, ia juga menggambar sosok pejuang di dinding rumah yang ditempatinya. Sesekali ia juga menulis kenangannya itu di sebuah buku yang sudah lusuh. “Jaman perjuangan tak pernah bisa dilupakan,” ujarnya.

Saat ini jaman sudah berubah. Namun perubahan ini tak lagi bisa mendongkrak kehidupan perekonomian Mbah Yono. Di tempat itu, ia menempati rumah saudaranya yang berukuran 6×5 meter. Mbah Yono hidup bersama putrinya Rusmiyati (50) yang dalam keadaan buta.

Untuk kehidupan sehari-hari, Mbah Yono mengandalkan pemberian ketiga anaknya yang merantau di Jogjakarta dan saudara-saudaranya. Sebenarnya, dalam hati Mbah Yono berkeinginan mendapatkan uang bulanan sebagai veteran dari pemerintah. Namun impian itu kandas setelah surat-surat status sebagai veteran hangus dibakar oleh istrinya.

“Surat itu sudah dibakar mendiang istri saya sehingga tak bisa lagi mengajukan uang bulanan sebagai veteran,” tutur Mbah Yono.

Meski demikian, tekad Mbah Yono untuk selalu berjuang tetap bulat. Di jaman modern ini, ia berkeingin untuk membantu masyarakat miskin terutama para mantan pejuang kemerdekaan agar diperhatikan pemerintah.

Menurut Mbah Yono, pemerintahan saat ini kurang begitu memperhatikan nasib para mantan pejuang yang telah mati-matian membela negara dari ancaman penjajah. Tekad bulat itu dibuktikan Mbah Yono dengan mengirim surat kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Surat itu dikirim setelah dua bulan SBY dilantik sebagai Presiden RI pada periode pertama.

Isi dalam surat itu intinya pemerintahan SBY harus menepati janjinya untuk mengangkat kemiskinan di Indonesia. Namun surat itu tak kunjung mendapat balasan dari SBY.

“Saya berinisiatif mengirim surat setelah mendengarkan pidato Pak SBY di radio mengenai program pengentasan kemiskinan. Saya berharap Pak SBY bisa menegakkan keadilan di Indonesia dan menghargai pejuang,” kata Mbah Yono.

Setelah menunggu tak ada balasan, kemudian Mbah Yono mengirim surat kedua pada tanggal 24 Nopember 2011. Dalam surat keduanya itu intinya meminta bantuan biaya hidup dan berobat dirinya.

Surat kedua Mbah Yono kemudian mendapatkan balasan dari Sekretariat Negara pada tanggal 6 Desember 2011 yang ditujukan ke Bupati Klaten.

Dalam surat balasan itu disebutkan bahwa Presiden RI telah menerima kiriman surat dari yang bersangkutan. Sehubungan dengan hal tersebut Pemkab Klaten dapat menampung permasalahannya dan kepada yang bersangkutan dapat diberikan penjelasan sesuai dengan kewenangan dan ketentuan yang berlaku.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge