0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Industri Jamu Tak Berdaya di Tanah Nusantara

Solo – Industri jamu tanah air harus rela menerima kenyataan, tak berdaya menapaki bisnis di tanah Nusantara. Bahkan, dalam lima tahun terakhir, industri jamu sulit berkembang lantaran tidak ada pembinaan dari institusi berwenang.

Chairman The Indonesian Herbs & Traditional Medicine Association, Charles Saerang, mengungkapkan industri jamu nasional mendapat tantangan yang cukup kompleks. Mulai dari bahan baku yang hingga saat ini tidak ada standar jelas dari pemerintah hingga regulasi yang kurang menguntungkan pengusaha jamu.

“Dari hulu saja sudah ada kendala, siapa yang membina petani. Harusnya dari institusi kefarmasian yang melakukan itu. Jadi wajar jika kita tidak punya bahan untuk ekspor karena kita tidak punya standarnya,” keluhnya, kepada wartawan, di sela-sela acara Pertemuan Aliansi Strategis Bidang Obat Tradisional, di Solo Paragon, Kamis (27/10).

Soal regulasi, diakui Charles, pemerintah menerapkan aturan yang cukup ketat pada industri jamu nasional. Produksi jamu wajib mengacu pada Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sebagaimana diterapkan pada industri farmasi.

“Jamu prosedurnya jangan disamakan dengan farmasi, ya susah dong,” ketus dia. Padahal, sambung Charles, jamu merupakan salah satu industri yang cukup prospektif. Pada 2010 saja, omzet industri jamu nasional mencapai Rp 10 triliun. Sementara potensinya bisa tembus di angka Rp 30 triliun pertahun.

Satu lagi tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi para pengusaha jamu tanah air, yakni serbuan jamu (herbal) impor. Diakui Charles, produk obat tradisional asing cukup marak beredar di pasar domestik, baik secara legal maupun ilegal. Setidaknya ada 40 persen industri jamu asing yang masuk ke tanah air tanpa mengantongi ijin dari pemerintah.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge