0271-3022735 redaksi@timlo.net
Timlo.net

Alun-alun Jadi Ajang Transaksi

Prostitusi di Klaten Kian Mengkhawatirkan

- Timlo.net

Klaten – Praktek prostitusi terselubung di Kabupaten Klaten tampaknya masih berjalan eksis dan kian mengkhawatirkan. Bahkan banyak di antara mereka yang terjerumus ke lembah dosa tersebut merupakan usia muda alias anak baru gede (ABG) antara 14-20 tahun.

Hasil penelusuran Timlo.net, para ABG berpenampilan aduhai setiap malam mangkal di Alun-alun Kota Klaten. Bunga (20), nama samaran salah satu ABG mengaku tak pernah mangkal di lokalisasi lantaran tidak ingin digaruk petugas. Memang untuk mangkal, ia tidak berani terang- terangan. Biasanya ia memilih alun-alun maupun sub terminal angkutan di belakang Pasar Klaten Kota sebagai tempat transaksi saat malam hari.

“Biasanya sebelum bertemu, para tamu telepon duluan menanyakan kelonggaran waktu saya apakah sudah diboking atau belum. Kalau belum, saya ajak tamu bertemu di alun-alun saat malam hari untuk menentukan tarifnya. Kalau sudah sepakat baru mencari hotel atau penginapan,” tutur gadis asli Klaten ini, Kamis malam (26/8).

Bahkan dari pengakuan Bunga, banyak juga dari teman-teman satu kosnya yang melakukan praktek serupa. Meski sudah bekerja sebagai penjaga toko, mereka terpaksa menjalai bisnis esek-esek ini lantaran terdesak kebutuhan ekonomi. Tak jarang pula dari mereka yang memanfaatkan situs jejaring sosial untuk mencari pria hidung belang.

“Terus terang saja kami terpaksa melakukan ini karena gaji yang saya dapatkan sebagai penjaga toko kurang mencukupi. Apalagi harus membantu orang tua dirumah,” tutur Mawar (19), ABG lainnya.

Tak hanya Bunga dan Mawar saja, modus yang sama juga dipakai Melati (14) yang masih duduk dibangku sekolah ini bahkan lebih rapi. Ia memilih kos-kosan sebagai tempat melayani laki-laki hidung belang. Soal transaksi, Melati biasanya melayaninya melalui telepon pribadinya.

Maraknya ajang transaksi prostitusi di kawasan Alun-alun Klaten ini juga dibenarkan beberapa pedgang yang biasa mangkal di kawasan itu. Bahkan menurut para pedagang, sebagian besar pelacur itu memilih kos yang berdekatan dengan alun-alun.

“Untuk menemui mereka (pelacur) di kos pun juga harus membayar Rp 20.000-Rp 50.000 untuk alasan keamanan yang biasa dijaga warga setempat. Namun nominal tergantung berapa banyak keamanan yang berjaga-jaga di sekitar kos tersebut,” ujar Parmin, pedagang asongan di kawasan alun-alun Klaten.

Sementara itu, Kepala Satuan (Kasat) Bimbingan Masyarakat (Binmas) Polres Klaten, Nanik Suryani, mengaku sangat prihatin dengan cara-cara praktek para gadis belia ini. Diakuinya, praktek para ABG ini memang tidak pernah di lokalisasi atau tempat-tempat mangkal seperti para PSK pada umumnya.

“Cara gadis belia yang rata-rata berumur 14 – 20-an tahun ini sangat rapi dalam mencari pria hidung belang, yakni melalui telepon pribadi untuk kemudian menentukan tempat kencan,” ujarnya.

Menurut Nanik, kurangnya perhatian para orang tua kepada putra-putrinya juga bisa menjadi faktor kenapa para ABG ini terjun dalam lembah hitam. Selain itu, tidak tahannya mereka terhadap hantaman modernisasi.

“Tidak sedikit para ABG ini berasal dari keluarga yang mampu. Kemungkinan kurangnya perhatian atau hubungan harmonis dari orang tua yang membuat mereka melampiaskan ke jalan yang salah,” ujar Nanik.

Namun demikian, imbuh Nanik, tidak sedikit pula dari mereka yang terjun ke praktek pelacuran itu karena ingin sesuatu barang yang tak mampu mereka dapatkan lantaran keterbatasan uang. "Kami berharap agar para orang tua untuk selalu menjaga putra-putrinya agar tidak terjerumus ke lembah hitam yang akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari," imbuhnya.

 

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS