Ketoprak Ngampung Tolak Mall Saripetojo
Solo – Ramainya warga Solo menolak rencana pembangunan mall di bekas Pabrik Es Saripetojo, Purwosari, belakangan ini, rupanya mengusik para seniman yang tergabung dalam kelompok Ketoprak Ngampung. Upaya demonstrasi menolak mall pun diwujudkan dalam sebuah pementasan ketoprak berjudul Kukus Wayah Esuk di Plaza Sriwedari, Sabtu (9/7).
Judul yang dalam bahasa Indonesia berarti asap di pagi hari ini ingin menyampaikan sebuah pesan yang berkaitan dengan provokasi. “Asap di sini maksudnya suatu provokasi. Jika terjadi provokasi karena adanya suatu masalah sebaiknya diantisipasi sedini mungin supaya hanya terjadi di suatu waktu saja dan tidak menjalar semakin lama. Kalau disesuaikan dengan judul ya jangan sampai berkembang sampai siang atau bahkan malam,” ungkap sutradara pementasan, Dwi Mustanto ketika ditemui di tengah-tengah pementasan.
Kisah yang terjadi di Kademangan Tegalgondo diibaratkan seperti yang terjadi di Saripetojo. Di bawah Katumenggungan Wiroguno, wilayah ini adalah salah satu kawasan yang strategis. Untuk itulah, Wiroguno pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram yang diceritakan suka berjudi ini ingin mengubahnya menjadi arena adu jago. Warga yang mengetahuinya pun tidak setuju. Rencana ini ternyata ditolak oleh Demang Tegalgondo karena wilayah ini dekat dengan pemukiman warga. Tetapi Wiroguno tidak kehabisan akal untuk mewujudkan pembangunan itu. Ia merekrut preman dari warga dengan iming-iming materi dan akhirnya perkelahian terjadi antara warga dan preman. Namun kelompok preman yang kalah karena warga memiliki persatuan yang kuat.
Lurah merasa prihatin dengan keadaan ini. Ia kemudian mengajak preman-preman itu untuk bersatu dengan warga untuk bersama-sama membangun kekuatan menolak pembangunan arena adu jago. “Sang lurah yang bijak mengajak para preman untuk mencintai wilayah itu dengan memberikan pengertiuan bahwa di tempat itulah mereka mencari makan bersama, tumbuh dan berkembang bersama-sama. Jadi sudah sepantasnyalah apabila warga tidak mengkotak-kotakkan diri,” lanjut Dwi.
Cerita yang diambil dari ide salah satu personel Ketoprak Ngampung, Udin UPW, ini juga menyelipkan sebuah harapan tentang persatuan tersebut supaya benar-benar terjadi di dunia nyata terutama pada diri masyarakat Solo agar ketegangan tidak terjadi lebih lanjut dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Untuk mewujudkan persatuan itu, sebaiknya semua pihak juga tidak mudah tergiur dengan materi,” tutur Dwi.
Naskah yang dibuat tahun 1998 ini juga pernah dimainkan pada saat meledaknya kasus kebakaran Pasar Gede pada tahun 1999 dengan format teater dan Pasar Nusukan pada tahun 2005 dengan format ketoprak.
Berita Terkait
Berita Terkini
- Penambang Pasir Merapi Alami Pacekl...
- RSI Klaten Jadi Rumah Sakit Percont...
- Juni, Jatah Raskin di Klaten Naik 2...
- Eddy Wirabhumi : Pemerintah Jangan ...
- Ikut Pembinaan, Guru Wajib Setor Rp...
- Ganti Rugi Lahan Tol Harus Diatas H...
- Talud Ambrol, Truk Muatan Urug Terp...
- DPRD Optimis Pemkot Selesaikan Cata...
- Petugas Minim, Si Moleks Batal Unju...
- Pesan Ibunda untuk Hidayat Nur Wahi...
- Pak Pos Bakal Ganti Tunggangan, Lho...
- Ibunda Hidayat Nur Wahid Meninggal ...
- Solo Utara Mulai Mengundang Investa...
- Kerabat Keraton Solo Kumpulkan Abdi...
- Pencari Kerja Tergiur “APBD”
Berita Terpopuler
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan
- Batal Konser, Lady Gaga Jalan-jalan...
- 2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
- Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan...
- "Tukang Plat" Diberondong Tembakan
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- Gedung Bertingkat 28 Segera Berdiri...
- Lha Ini, Akibat Merokok Sambil...
- Isi Maklumat Rekonsiliasi Dua Raja...
- Akhirnya, Raja Kembar Solo Berdamai
- Dua Raja Keraton Surakarta Bersatu
- Petinggi Universitas Ditahan
- Car Free Day kok Sepi?


Jokowi Ingin Kerabat Keraton Akur
Isi Maklumat Rekonsiliasi Dua Raja ...
Hangabehi – Tedjowulan Kumpulkan ...
Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan Ha...
Kerabat Keraton Pertanyakan Hasil R...
2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
Dua Raja Keraton Surakarta Bersatu