• Senin, 21 Mei 2012
Pentaskan "Kukus Wayah Esuk" di Plaza Sriwedari

Ketoprak Ngampung Tolak Mall Saripetojo

Cornelia Niar Riani - Timlo.net
Senin, 11 Juli 2011 | 11:06 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/niar
Aksi Ketoprak Ngampung

Solo – Ramainya warga Solo menolak rencana pembangunan mall di bekas Pabrik Es Saripetojo, Purwosari, belakangan ini, rupanya mengusik para seniman yang tergabung dalam kelompok Ketoprak Ngampung. Upaya demonstrasi menolak mall pun diwujudkan dalam sebuah pementasan ketoprak berjudul Kukus Wayah Esuk di Plaza Sriwedari, Sabtu (9/7).

Judul yang dalam bahasa Indonesia berarti asap di pagi hari ini ingin menyampaikan sebuah pesan yang berkaitan dengan provokasi. “Asap di sini maksudnya suatu provokasi. Jika terjadi provokasi karena adanya suatu masalah sebaiknya diantisipasi sedini mungin supaya hanya terjadi di suatu waktu saja dan tidak menjalar semakin lama. Kalau disesuaikan dengan judul ya jangan sampai berkembang sampai siang atau bahkan malam,” ungkap sutradara pementasan, Dwi Mustanto ketika ditemui di tengah-tengah pementasan.

Kisah yang terjadi di Kademangan Tegalgondo diibaratkan seperti yang terjadi di Saripetojo. Di bawah Katumenggungan Wiroguno, wilayah ini adalah salah satu kawasan yang strategis. Untuk itulah, Wiroguno pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram yang diceritakan suka berjudi ini ingin mengubahnya menjadi arena adu jago. Warga yang mengetahuinya pun tidak setuju. Rencana ini ternyata ditolak oleh Demang Tegalgondo karena wilayah ini dekat dengan pemukiman warga. Tetapi Wiroguno tidak kehabisan akal untuk mewujudkan pembangunan itu. Ia merekrut preman dari warga dengan iming-iming materi dan akhirnya perkelahian terjadi antara warga dan preman. Namun kelompok preman yang kalah karena warga memiliki persatuan yang kuat.

Lurah merasa prihatin dengan keadaan ini. Ia kemudian mengajak preman-preman itu untuk bersatu dengan warga untuk bersama-sama membangun kekuatan menolak pembangunan arena adu jago. “Sang lurah yang bijak mengajak para preman untuk mencintai wilayah itu dengan memberikan pengertiuan bahwa di tempat itulah mereka mencari makan bersama, tumbuh dan berkembang bersama-sama. Jadi sudah sepantasnyalah apabila warga tidak mengkotak-kotakkan diri,” lanjut Dwi.

Cerita yang diambil dari ide salah satu personel Ketoprak Ngampung, Udin UPW, ini juga menyelipkan sebuah harapan tentang persatuan tersebut supaya benar-benar terjadi di dunia nyata terutama pada diri masyarakat Solo agar ketegangan tidak terjadi lebih lanjut dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Untuk mewujudkan persatuan itu, sebaiknya semua pihak juga tidak mudah tergiur dengan materi,” tutur Dwi.

Naskah yang dibuat tahun 1998 ini juga pernah dimainkan pada saat meledaknya kasus kebakaran Pasar Gede pada tahun 1999 dengan format teater dan Pasar Nusukan pada tahun 2005 dengan format ketoprak.

         

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125