Petani Tembakau Terlilit Utang Rentenir
Klaten – Meski sudah memasuki musim kemarau, tidak lantas membuat para petani tembakau di Kabupaten Klaten senang. Justru mereka mulai kesulitan modal untuk bercocok tanam menyusul masa tanam kali ini. Ironisnya, kini mereka malah tercekik utang rentenir guna biaya operasional.
Suparjo (45), petani tembakau asal Desa Mandong, Kecamatan Trucuk, mengaku selalu mengajukan pinjaman uang ke bank swasta di Klaten dengan suku bunga tinggi saat akan memulai bercocok tanam.
Ajunan yang diberikan Suparjo adalah sertifikat tanah yang menjadi lahan untuk tanaman tembakau. “Untuk saat ini sertifikat sudah di tangan bank. Padahal modal untuk menanam tembakau saat ini mencapai puluhan juta. Jadi saya terpaksa mengurangi area tanaman tembakau,” ujarnya, Minggu (26/6).
Ungkapan senada juga disampaikan Sartini (52), petani tembakau lainnya. Ia mengatakan, demi melanjutkan masa tanam kali ini dirinya harus nekat meminjam bank plecit. “Namanya juga kepepet. Dari pada tidak bisa tanam sama sekali,” tuturnya.
Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Klaten, Kadarwati mengatakan, saat ini banyak petani yang kebingungan untuk memulai menanam tembakau. Karena mereka masih harus membayar cicilan utang akibat gagal panen tembakau setahun terakhir. “Saat ini petani dihadapkan pada kebutuhan modal untuk menanam tembakau lagi. Tentu saja masa-masa sekarang adalah waktu yang sulit untuk petani yang akan bangkit,” ujarnya.
Diakuinya, mayoritas petani di Klaten kini mengandalkan pinjaman uang ke bank dengan ajunan sertifikat tanah. Kenyataan yang terjadi sekarang adalah sertifikat tersebut masih tertahan di bank karena cicilan pinjaman ke bank sebelumnya belum selesai.
“Tentu dengan keadaan seperti ini saya berharap ada keringanan yang diberikan bank untuk memberikan pinjaman ke petani. Selama ini mereka tidak pernah mangkir untuk membayar utang selama mereka berhasil panen tembakau,” imbuh Kadarwati.
Menurutnya, ketergantungan petani terhadap pinjaman bank tinggi setiap memasuki musim tanam tembakau. Selain kepada bank, dia juga meminta pemerintah agar dapat membantu meringankan beban yang dihadapai petani tembakau di Klaten.
Berita Terkait
Komentar
Tinggalkan Balasan
Berita Terkini
- Penambang Pasir Merapi Alami Pacekl...
- RSI Klaten Jadi Rumah Sakit Percont...
- Juni, Jatah Raskin di Klaten Naik 2...
- Eddy Wirabhumi : Pemerintah Jangan ...
- Ikut Pembinaan, Guru Wajib Setor Rp...
- Ganti Rugi Lahan Tol Harus Diatas H...
- Talud Ambrol, Truk Muatan Urug Terp...
- DPRD Optimis Pemkot Selesaikan Cata...
- Petugas Minim, Si Moleks Batal Unju...
- Pesan Ibunda untuk Hidayat Nur Wahi...
- Pak Pos Bakal Ganti Tunggangan, Lho...
- Ibunda Hidayat Nur Wahid Meninggal ...
- Solo Utara Mulai Mengundang Investa...
- Kerabat Keraton Solo Kumpulkan Abdi...
- Pencari Kerja Tergiur “APBD”


Jokowi Ingin Kerabat Keraton Akur
Isi Maklumat Rekonsiliasi Dua Raja ...
Hangabehi – Tedjowulan Kumpulkan ...
Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan Ha...
Kerabat Keraton Pertanyakan Hasil R...
2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
Dua Raja Keraton Surakarta Bersatu
cape deh, mana peran bank dalam membantu usaha kecil?
kaum petani memang dipandang sebelah mata oleh pemerintah..kami petani tembakau di kendal jg mengalami kesulitan untuk mendapatkan modal pinjaman dr bank negri/swasta..mereka takut uang tak kembali,kalau dipikir org2 yg suka menipu bukanlah org lemah seperti petani,tp mereka yg duduk di lembaga pemerintah dg gaji yg mereka makan dr rakyat kecil