• Senin, 21 Mei 2012
Kesulitan Modal Bercocok Tanam

Petani Tembakau Terlilit Utang Rentenir

Indratno Eprilianto - Timlo.net
Minggu, 26 Juni 2011 | 19:33 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Indratno Eprilianto
Petani Tembakau di Klaten mulai terlilit utang

Klaten – Meski sudah memasuki musim kemarau, tidak lantas membuat para petani tembakau di Kabupaten Klaten senang. Justru mereka mulai kesulitan modal untuk bercocok tanam menyusul masa tanam kali ini. Ironisnya, kini mereka malah tercekik utang rentenir guna biaya operasional.

Suparjo (45), petani tembakau asal Desa Mandong, Kecamatan Trucuk, mengaku selalu mengajukan pinjaman uang ke bank swasta di Klaten dengan suku bunga tinggi saat akan memulai bercocok tanam.

Ajunan yang diberikan Suparjo adalah sertifikat tanah yang menjadi lahan untuk tanaman tembakau. “Untuk saat ini sertifikat sudah di tangan bank. Padahal modal untuk menanam tembakau saat ini mencapai puluhan juta. Jadi saya terpaksa mengurangi area tanaman tembakau,” ujarnya, Minggu (26/6).

Ungkapan senada juga disampaikan Sartini (52), petani tembakau lainnya. Ia mengatakan, demi melanjutkan masa tanam kali ini dirinya harus nekat meminjam bank plecit. “Namanya juga kepepet. Dari pada tidak bisa tanam sama sekali,” tuturnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Klaten, Kadarwati mengatakan, saat ini banyak petani yang kebingungan untuk memulai menanam tembakau. Karena mereka masih harus membayar cicilan utang akibat gagal panen tembakau setahun terakhir. “Saat ini petani dihadapkan pada kebutuhan modal untuk menanam tembakau lagi. Tentu saja masa-masa sekarang adalah waktu yang sulit untuk petani yang akan bangkit,” ujarnya.

Diakuinya, mayoritas petani di Klaten kini mengandalkan pinjaman uang ke bank dengan ajunan sertifikat tanah. Kenyataan yang terjadi sekarang adalah sertifikat tersebut masih tertahan di bank karena cicilan pinjaman ke bank sebelumnya belum selesai.

“Tentu dengan keadaan seperti ini saya berharap ada keringanan yang diberikan bank untuk memberikan pinjaman ke petani. Selama ini mereka tidak pernah mangkir untuk membayar utang selama mereka berhasil panen tembakau,” imbuh Kadarwati.

Menurutnya, ketergantungan petani terhadap pinjaman bank tinggi setiap memasuki musim tanam tembakau. Selain kepada bank, dia juga meminta pemerintah agar dapat membantu meringankan beban yang dihadapai petani tembakau di Klaten.

         

Berita Terkait

Komentar

  1. hendro sudarto

    cape deh, mana peran bank dalam membantu usaha kecil?

  2. masrur

    kaum petani memang dipandang sebelah mata oleh pemerintah..kami petani tembakau di kendal jg mengalami kesulitan untuk mendapatkan modal pinjaman dr bank negri/swasta..mereka takut uang tak kembali,kalau dipikir org2 yg suka menipu bukanlah org lemah seperti petani,tp mereka yg duduk di lembaga pemerintah dg gaji yg mereka makan dr rakyat kecil

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan pdam solo

iklan pln

iklan mettafm