• Senin, 21 Mei 2012

Reog SMKN 2 Wonogiri Gayengkan Kreasso

Cornelia Niar Riani - Timlo.net
Senin, 20 Juni 2011 | 04:24 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/niar
Penampilan Reog Ponorogo SMKN 2 Wonogiri.

Solo – Atas kecintaan sang kepala sekolah dengan Reog yang merupakan kesenian asli Ponorogo, sebuah kegiatan tambahan yang sangat jarang terjadi di sekolah-sekolah, yakni ekstrakurikuler Reog Ponorogo dihadirkan di SMKN 2 Wonogiri mulai tahun 2007 silam.

Tidak hanya mencari pemenuhan pelatih dan fasilitas kostum serta peralatan yang disiapkan namun setiap tahun sekolah ini menggelar lomba pertunjukkan reog sejak saat itu. SMKN 2 Wonogiri baru mengikuti sejak 2008 dan selalu mendapatkan juara 5 besar.

Dalam ajang Kreatif Anak sekolah Solo (Kreasso) 2011 yang digelar di Koridor Ngarsopuro Solo mulai Minggu (19/6) sore ini, mereka juga tidak mau ketinggalan menampilkan aksi mereka. Lakon Risang Kelono Sewandono dipentaskan mereka dengan mempesona. Selain itu, dengan perpaduan karawitan dan koreografi ditambah dua pembawa Barong memperlihatkan masih ada suasana magisdan mistis yang dibawa.

Pelatih ekstrakurikuler tari yang kemudian menjadi fokus ke tari-tari Reog, Ludiro Pancoko mengisahkan tentang Barong yang menjadi fokus pertunjukkan Reog. “kalau yang kami punya ini ada dua ukuran, besar dan kecil. Yang kecil mencapai 25 kg, yang besar bisa sampai 60 kg. Tidak mungkin kalau orang biasa bisa mengangkatnya dengan kuat dalam waktu yang tidak sebentar hanya dengan menggunakan gigi. Pembarong biasanya memiliki isi (kekuatan yang disinyalir berasal dari roh halus) di tubuhnya selama bermain Reog,” jelas Ludiro yang ditemui usai pementasan anak didiknya.

Ludiro melanjutkan, penonton tidak perlu takut dengan adanya kekuatan magis ini karena yang berperan sebagai pembarong adalah orang yang sudah berpengalaman dan setelah pertunjukkan pun dipastikan kekuatan tersebut sudah hilang. Meskipun ada roh lain yang merasuki seorang pembarong, permainan tetap tertata dengan baik karena latihan yang lama. Jadi, bukan roh tersebut yang mengenadilak manusia namun tetap manusianya lah yang memiliki kendali atas apa yang harus dilakukan selaa pertunjukkan agar bisa dinikmati oleh penonton.

“Pada pertunjukkan para siswa ini, yang menjadi pembarong juga bukan siswa tetapi pelatih Reog. Kekuatan ini juga tidak bisa didapatkan begitu saja. Harus melalui ritual khusus sebelumnya seperti puasa dan lain sebagainya,” tuturnya.

         

Berita Terkait

Komentar

  1. herman

    sulit sekali melihat acara budaya di jakarta. jalanan pasti macet total jika ada acara seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan JS 300×125