Jambul Kramayudha, Parodi Sosial Ala Ketoprak Ngampung
Solo – Ketoprak Ngampung menyajikan pertunjukan yang berbeda dalam lakon yang ia bawakan kali ini. Bertempat di Sanggar Wayang Orang (WO) Taman Balekambang, Solo, Minggu (5/6), dengan tema Jambul Kramayudha yang dikemas secara parodi dengan humor-humor segar yang membuat gelak tawa pengunjung. Namun di satu sisi, kisah yang tersirat di dalamnya adalah sebuah kisah pilu tentang gambaran sosial hidup manusia.
Ketua Panitia, Tata Prihantoro mengatakan, pementasan tersebut merupakan kerjasama dari Ketoprak Ngampung dengan UPTD Taman Balekambang dan bantuan dari banyak pihak untuk terselenggaranya acara kali ini. “Yang unik dari pentas kali ini, kami mengundang anak-anak dari beberapa panti asuhan di Solo, murid-murid YPAC dan penghuni Panti Wreda untuk menyaksikan ketoprak ini. Jumlahnya sekitar 250 orang,” katanya.
Alur cerita tersebut bermula dari Jambul, seorang anak kecil yang hidup dalam lingkaran kemiskinan keluarganya. Ia sering merasa malu kepada teman sebayanya, bahkan sering pula menjadi barang cemoohan teman-temannya karena menjadi anak yang miskin harta.
Suatu hari Jambul mengutarakan keinginan kepada ayahnya, Kromo, untuk dikhitan. Ia menganggap teman sebayanya sudah dikhitan semua, tinggal dirinya saja yang belum. Sebagai seorang bapak, Kromo berpikiran serupa dengan anaknya. Ia juga mengakui usia anaknya memang sudah pantas untuk disunat.
Namun dalam hati sang ayah merasa sangat resah. Dalam kondisi seperti ini tidak mungkin baginya melangsungkan upacara sunatan. Ia juga sempat bergumam, jangankan untuk sunatan, untuk makan sehari-hari saja susah baginya. Ia mengutuk dalam hati, mengapa kemiskinan harus menghimpit keluarganya. Bahkan untuk anak sekecil Jambul, yang menurutnya belum pantas menerima cobaan berat seperti ini.
Setelah berfikir beberapa saat, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih layak dengan pergi ke kota. Tekadnya sudah bulat, apa yang menjadi impiannya harus dapat diraihnya. Sebuah pekerjaan yang lebih layak. Uang, baginya adalah dewa penyelamat.
Diiringi oleh doa istri dan anaknya, Kromo dengan langkah yang pasti mulai berangkat ke kota. Girimulyo, adalah nama kota yang selalu terngiang dalam benaknya, dalam impiannya. Mata, pikiran dan hatinya sudah tertuju ke sana dengan sejuta harapan yang tergantung di pundaknya.
Di tengah jalan, langkahnya terhenti saat matanya menatap sebuah perkelahian. Dengan jelas matanya melihat sebuah pertempuran yang tidak seimbang. Dilihat dari apa yang dikenakannya, ia bisa menilai pasukan prajurit kerajaan bertempur dengan sekelompok berandalan. Karena kekuatan kedua pasukan tersebut tidak seimbang, prajurit kerajaan terpojok dan nyaris kalah.
Karena perasaan empati dan kemanusiaan yang dimilikinya, Kromo secara spontan masuk ke dalam perkelahian tersebut, membela pasukan kerajaan yang sudah terpojok. Berkat keahlian yang dimilikinya, Kromo berhasil mengalahkan segerombolan berandalan dengan mudah. Pasukan kerajaan sangat takjub dengan kemampuan kanuragan yang dimiliki Kromo. Setelah berbincang, baru diketahui pasukan tersebut berasal dari Kabupaten Girimulyo, kota yang menjadi tujuannya.
Sebagai ucapan terima kasihnya karena telah berjasa kepada kerajaan, Kromo diajak menghadap Bupati oleh pasukan kerajaan. Dengan senang hati Kromo menerima tawaran tersebut, karena dalam benaknya dengan bantuan pemerintah kerajaan pasti mudah baginya mencari kerja disana. Toh, ia sudah merasa sangat berjasa pada kerajaan.
Di kabupaten Girimulyo, Kromo disambut bak pahlawan. Pujian sang Bupati kepadanya pun tak henti-hentinya diucapkan. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya kepada kerajaan, Kromo diberi jabatan sebagai seorang Tumenggung. Tak disia-siakan, jabatan itu langsung ia terima. Ia sangat senang dan hampir tak percaya, begitu mudahnya meraih impiannya selama ini. Sama sekali belum pernah terpikirkan olehnya menjadi seorang tumenggung seperti ini.
Di dalam kerajaan, ia menaruh hati pada putri Bupati, bernama Dewi Rengganis. Walaupun berstatus janda, namun kharisma sang putri mampu meluluhkan hatinya. Bagai gayung bersambut, rupanya sang putri juga menaruh hati kepada Kromo. Ia pun akhirnya menjalin hubungan cinta dengan Dewi Rengganis.
Dalam hati Kromo sebenarnya sempat muncul gejolak, tidak mungkin baginya menikahi sang putri. Ia sadar, dirinya masih terikat dalam sebuah perkawinan. Sempat muncul dalam benaknya wajah lucu Jambul, yang pasti menunggu kepulangannya kelak.
Namun seketika pikiran itu buyar, tertutup oleh ketamakan hatinya sendiri. Ia berfikir saat ini posisinya sedang diatas angin. Harta, jabatan dan wanita telah membutakan mata hatinya. Ia telah lupa anak dan istrinya menunggu dirumah, di sebuah desa kecil di pelosok kabupaten.
Hubungan cinta kedua insan tersebut telah diketahui oleh Bupati Girimulyo. Dengan liciknya Kromo mengaku masih bujangan, belum pernah menikah. Akhirnya, dengan restu Bupati, kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu langsung dinikahkan.Hari-hari berikutnya menjadi hari yang sangat bahagia bagi keduanya. Tiap detik mereka lalui dengan kemesraan.
Hingga suatu hari, tak disangka istri dan Jambul anaknya datang ke istana. Ia mencari suaminya ke kota karena sudah sekian lama belum pulang untuk sekedar menengoknya dan anaknya. Akhirnya ia mendapat kabar kalau suaminya sekarang sudah menjadi seorang tumenggung yang terkenal dan disegani pula.
Betapa kaget dan sakit hati istrinya ketika bertatap muka dengan Kromo. Bukan pelukan yang ia dapatkan, namun caci maki yang keluar dari mulut sang Tumenggung. Ia merasa, dengan kehadiran istri lamanya itu bisa mengacaukan semua yang telah ia dapatkan selama ini. Ia terlanjur mengaku kepada Bupati dan Rengganis kalau dahulu dirinya masih bujangan. Akhirnya Kromo menjadi gelap mata, dengan kasar Kromo mengusir istri dan Jambul buah hatinya dari kerajaan.
Dengan sedih, ibu dan anak tersebut meninggalkan kerajaan dan meninggalkan kota Girimulyo. Semua harapannya bertemu dengan suaminya telah pupus. Ia tidak menyangka, impian yang semula indah kini menjadi petaka baginya. Ia pasrah, bagaimanapun harus siap menerima kenyataan pahit tersebut.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Jambul menderita sakit. ibunya menjadi panik. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Dalam kepanikannya ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah kepada Yang Kuasa. Lengkap sudah penderitaan yang ia hadapi.
Sementara itu, di kabupaten Girimulyo gempar. Tanpa sepengetahuan Kromo, Dewi Rengganis mengetahui pembicaraan antara Kromo dengan istrinya beberapa waktu lalu. Dari pembicaraan tersebut membuat Rengganis tahu status Kromo yang sebenarnya. Ia merasa malu karena telah dibohongi oleh Kromo. Ia juga merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh lelaki tersebut. Dengan perasaan marah Rengganis melaporkan semua kejadian itu pada Ayahnya, Bupati Girimulyo.
Tidak terima dan merasa dipermalukan, Bupati memanggil Kromo. Akhirnya Kromo diberhentikan dengan tidak hormat karena dinilai telah melakukan kebohongan dan telah mempermalukan Kerajaan Girimulyo. Secara tidak hormat pula, Kromo diusir keluar dari kerajaan tersebut.
Merasa bersalah pada anak dan istrinya, Kromo memutuskan untuk kembali ke desanya, sebuah perkampungan kecil yang jauh di ujung kabupaten Girimulyo. Dalam perjalanan pulang, semua bayangan rasa bersalahnya muncul dalam benak laki-laki itu. Kesalahan demi kesalahan yang ia perbuat pada anak dan istrinya silih berganti muncul dalam benaknya, membuat hatinya serasa teriris, sakit dan malu atas dosa yang selama ini ia perbuat.
Ketika sampai di rumah, betapa terkejutnya Kromo, setelah mengetahui Jambul, anak semata wayangnya telah meninggal dunia. Anak kecil yang masih lugu itu tidak terselamatkan nyawanya saat pulang dari kota dan menderita sakit di tengah perjalanan. Kromo hanya bisa menangis, meratapi nasib yang ia alami, sekaligus marah pada dirinya sendiri, merasa bersalah selama ini telah sia-siakan anak dan istrinya. Ia juga merasa sangat berdosa kepada anaknya, karena semula keinginannya pergi ke kota untuk mencari uang, untuk memenuhi keinginan anaknya yang minta disunat. Tapi ternyata matanya telah dibutakan oleh harta, jabatan, dan wanita yang akhirnya menjerumuskannya kembali ke dalam kemiskinannya seperti semula.
Berita Terkait
Komentar
Tinggalkan Balasan
Berita Terkini
- Penambang Pasir Merapi Alami Pacekl...
- RSI Klaten Jadi Rumah Sakit Percont...
- Juni, Jatah Raskin di Klaten Naik 2...
- Eddy Wirabhumi : Pemerintah Jangan ...
- Ikut Pembinaan, Guru Wajib Setor Rp...
- Ganti Rugi Lahan Tol Harus Diatas H...
- Talud Ambrol, Truk Muatan Urug Terp...
- DPRD Optimis Pemkot Selesaikan Cata...
- Petugas Minim, Si Moleks Batal Unju...
- Pesan Ibunda untuk Hidayat Nur Wahi...
- Pak Pos Bakal Ganti Tunggangan, Lho...
- Ibunda Hidayat Nur Wahid Meninggal ...
- Solo Utara Mulai Mengundang Investa...
- Kerabat Keraton Solo Kumpulkan Abdi...
- Pencari Kerja Tergiur “APBD”
Berita Terpopuler
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- Batal Konser, Lady Gaga Jalan-jalan...
- 2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
- Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan...
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- Gedung Bertingkat 28 Segera Berdiri...
- "Tukang Plat" Diberondong Tembakan


Jokowi Ingin Kerabat Keraton Akur
Isi Maklumat Rekonsiliasi Dua Raja ...
Hangabehi – Tedjowulan Kumpulkan ...
Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan Ha...
Kerabat Keraton Pertanyakan Hasil R...
2 Raja Damai, Tedjowulan Pilih Jadi...
Dua Raja Keraton Surakarta Bersatu
mantap !!!!
perbanyak dong berita seperti ini, tombo kangen yang diluar kota.